[Otacouncil Artist Corner] Yuk Kenalan Inilah Reina Seiyuu Keturunan Afrika Pertama Dan Satu-Satunya Di Jepang

Menjadi seorang seiyuu bukanlah suatu perkara yang gampang apalagi orang tersebut adalah gaijin yang notabene bukan warga asli Jepang. Sebut saja salah satu seiyuu keturunan Rusia yaitu Jenya yang pernah kami bahas sebelumnya. Berusaha keras selama bertahun-tahun, doi hanya berhasil mendapatkan sebagian peran kecil. Persaingan dalam dunia seiyuu juga sangat kompetitif dan hal tersebut pernah dilontarkan oleh seiyuu Yuu Asakawa. Tidak ada asuransi pekerjaan untuk seiyuu dan jika kamu gagal maka tidak ada yang peduli karena penggantimu masih banyak.

Nah hal tersebut ternyata tidak menyurutkan langkah seorang warga Inggris keturunan Afrika bernama Reina untuk mengambil profesi sebagai seiyuu. Sedari kecil Reina (nama panggung) sudah menyukai film animasi dan fantasi seperti “Return To Oz”. Pada usia 9 tahun beliau sudah bercita-cita ingin menjadi aktris.

Reina adalah penggemar serial kartun Amerika “The Simpsons”. Beliau mendengar cerita tentang Nancy Cartwright yang pada awalnya adalah seorang aktris TV, namun terpilih sebagai pengisi suara Bart Simpson dan menjadi terkenal. Terlepas dari penampilan fisik yang ada, di studio para pengisi suara dapat menjadi karakter apapun tanpa dibatasi limit. Hal itu membuat Reina tertarik dan memutuskan untuk menjadi seorang seiyuu ketika masih berumur 14 tahun.

Ketika berumur 16 tahun Reina dipertemukan dengan sebuah serial anime berjudul “Fist of the North Star”. Beliau terkejut dengan berbagai adegan kekerasan yang ada di anime tersebut. Di negara Barat biasanya film animasi diperuntukkan untuk anak-anak dan keluarga dan beliau pun bertanya-tanya kenapa film animasi bisa memiliki rating 18 tahun di Inggris. Beliau kemudian melihat ke bagian belakang video tersebut dan menemukan tulisan “Made in Japan”. Seketika Reina pun berpikiran anime Jepang itu ternyata keren dan beliau harus menonton lebih banyak lagi. Fist of the North Star membuka mata Reina ke sebuah dunia yang baru dan menarik karena beliau menyadari untuk pertama kalinya bahwa anime atau kartun ternyata ada yang diperuntukkan untuk orang dewasa. Reina pun seketika menjadi sangat tertarik dengan dunia Jejepangan dan menonton lebih banyak anime seperti Pokemon dan Cardcaptor Sakura sekitar tahun 2000.

Reina pun memulai merintis cita-citanya untuk menjadi seiyuu dengan kuliah selama 3.5 tahun mengambil jurusan Computer Science dan Bahasa Jepang di sebuah universitas di Inggris. Pada tahun ketiga tepatnya 2004, Reina menginjakkan kaki di Jepang dan belajar bahasa Jepang selama satu tahun di Universitas J.F. Oberlin. Reina yang sangat ingin tinggal di Jepang sangat senang karena beruntung terpilih dalam program pertukaran mahasiswa.

Setelah tinggal satu tahun di Jepang Reina pun kembali ke Inggris untuk kelulusannya. Beliau berpikir untuk kembali dan setelah beberapa saat lamanya Reina berhasil mendapatkan visa liburan kerja dan akhirnya dapat kembali lagi ke Jepang. Reina kembali ke Jepang lagi pada tahun 2008 sesaat setelah krisis Lehman Brothers Shock. Meskipun dalam masa sulit, beliau tidak pernah berpikiran untuk menyerah dan pulang kampung.

Di Jepang Reina mencari lowongan kerja dan akhirnya bisa magang selama 3 bulan sebagai staff IT di Blomberg Tokyo. Setelah itu beliau bekerja sebagai Asisten Guru Bahasa di sebuah SMP. Setelah merasa lebih mapan, Reina memutuskan untuk mulai mengejar impiannya dengan mendaftar di sekolah seiyuu bernama Yoyogi Animation School pada tahun 2010. Karena harus bekerja dari hari Senin sampai Jumat, beliau mengambil kursus seiyuu setiap hari Sabtu selama 1 tahun disana.

Reina kemudian kemudian memutuskan untuk pindah ke sekolah seiyuu Tokyo School of Anime (Toani) yang didirikan pada tahun 2011 karena menurutnya equipment di Toani sangat menakjubkan dan sekolah tersebut memiliki banyak channel dengan orang-orang dalam industri anime. Guru-guru yang mengajar disana juga merupakan para seiyuu yang bekerja. Reina merupakan siswa generasi pertama dan satu-satunya siswa asing di sekolah seiyuu tersebut.

Tiga hari setelah bersiap untuk memulai kehidupan baru di Toani, gempa bumi dan tsunami dahsyat mengguncang Jepang pada tanggal 03 Maret 2011. Kekhawatiran terbesar Reina saat itu adalah radiasi dari Fukushima. Sempat bimbang akhirnya Reina memutuskan untuk tetap menetap di Jepang, mempertaruhkan hidupnya dan mendaftar di bulan April 2011.

Reina menghadapi berbagai kesulitan menjadi satu-satunya siswa asing di sekolah seiyuu tersebut. Namun beberapa teman kelasnya berusaha membantunya pada saat dia sedang berjuang dan para gurunya juga ikut mendukungnya. Meskipun menghadapi berbagai kesulitan, pengalaman Reina di sekolah seiyuu sangat berharga dan pada tahun 2013 dia lulus.

Reina banyak mengikuti audisi dan pameran kerja namun pada saat audisi dia selalu gagal karena intonasinya atau karena gagal membaca karakter kanji dengan benar dalam waktu 10 menit setelah menerimanya. Nasib baik menghampiri Reina, salah satu gurunya mengenal CEO di sebuah agensi yang sedang mencari seiyuu dengan suara bilingual Jepang / Inggris dan merekomendasikannya. Reina pun datang ke agensi tersebut, melakukan wawancara dan beruntung diterima diagensi tersebut.

Di bulan April 2013 Reina pun akhirnya menjadi seorang profesional namun beliau harus tetap mengikuti kelas mingguan di agensi tersebut dan juga mengikuti ujian evaluasi setiap bulan Februari. Industri seiyuu sangat kompetitif jika kamu dipecat oleh agensimu, kamu harus memulai lagi di agensi berbeda itupun kalau kamu lulus audisi. Reina pun mengikuti ujian tersebut dan hasilnya ternyata belum cukup untuk bisa mempromosikan Reina dan dia harus kembali mengulang kelas yang sama. Pada dasarnya jika kamu bekerja disebuah agensi, maka kamu tidak dapat dengan mudah melakukan pekerjaan diluar agensi dan Reina pun menyadari dia juga tidak cukup mumpuni untuk mencoba audisi seiyuu yang lain sehingga dia memutuskan untuk menjadi freelancer agar dapat terus bekerja di Jepang dan mengambil sebanyak mungkin peluang.

Sejak saat itu, dia berpartisipasi dalam acara obrolan ad-lib miliknya sendiri termasuk mengambil tantangan untuk melakukan narasi film bisu tradisional Jepang yang disebut katsuben. Selain itu, Reina juga berpartisipasi dalam versi bilingual Jepang dan Inggris dari Romeo dan Juliet di perusahaan theater Tokyo International Players.

Meskipun belum berhasil menjadi seiyuu terkenal dalam sebuah anime atau game, namun posisinya sebagai seiyuu membuat Reina senang karena telah memberinya kesempatan untuk bertemu dengan nama-nama besar di dunia seiyuu seperti seiyuu Romi Paku (Nana Osaki dari Nana, Edward Elric dari Fullmetal Alchemist) dan Junko Takeuchi (Lambo dari Katekyo Hitman Reborn, Honjo Kamatari dari Rurouni Kenshin dan Uzumaki Naruto dari Naruto).

Reina juga merupakan penggemar berat serial Naruto. Baginya Naruto selalu menjadi inspirasi utamanya. Menurutnya Naruto adalah seorang karakter yang memiliki cita-cita yang hampir mustahil namun dia berhasil mewujudkannya dan Reina mengatakan dia juga memiliki impian yang sama seperti Naruto. Awalnya banyak orang meragukan Naruto seperti orang meragukan beliau. Kapan pun Reina lagi merasa down karena sesuatu tidak berjalan baik maka beliau akan menonton Naruto didorong oleh sang karakter berjuang dalam mengatasi kesulitan dan kemudian bisa bangkit lagi keesokan harinya.

Reina sekarang masih giat belajar untuk meningkatkan kemampuannya sebagai seorang seiyuu dan dalam beberapa tahun kedepan dia berharap bisa menyempurnakan kemampuan menyanyi dan aktingnya untuk berpartisipasi dalam drama musikal, membangun fanbase, bekerja sebagai penerjemah dan mendapatkan peran penting dalam sebuah anime.

Reina mengatakan dia telah menanamkan benih tinggal memberikan benih tersebut air dan cahaya sehingga benih tersebut akan tumbuh subur. Buat kalian yang mau memfollow Reina dapat mengikuti akun media sosialnya pada link berikut : @enrei_reina atau enreina. Hmm salut untuk Reina yang pantang menyerah dalam menggapai impiannya dan mudah-mudahan beliau berhasil dalam mengejar cita-citanya tersebut.

source : myeyestokyo about.me blasiannarrative tokyointerlopers

Leave a Reply